Monday, July 2, 2012

Saatnya Anak-anak Bergembira Bersama Ayah!


KOMPAS.com - Tak bisa dipungkiri, betapa pun banyak cerita kelam tentang kehidupan pribadi para pemain sepak bola, keluarga dan orang-orang terdekat merupakan tempat yang paling diutamakan oleh siapa pun untuk berbagi suka dan duka dengan nyaman, termasuk oleh para bintang sepak bola.

Nilai itu yang ingin disampaikan oleh para pemain tim nasional Spanyol melalui selebrasi kemenangan mereka di Piala Eropa 2012, Minggu (1/7/2012). Usai menundukkan Italia dengan skor telak 4-0 di Stadion Olympic di Kiev, para penggawa "La Furia Roja" membawa pasangan dan anak-anak mereka masuk ke dalam lapangan untuk bergembira.

Fernando Torres, Jordi Alba, Xabi Alonso, Pepe Reina, Alvaro Arbeloa dan Sergio Ramos memboyong anak-anak mereka langsung ke dalam lapangan untuk merayakan kemenangan Spanyol yang kedua kalinya sebagai penguasa Eropa. Selebrasi penuh kemesraan juga dirayakan oleh anak-anak asuhan Vicente Del Bosque ini dengan istri dan kekasihnya masing-masing.

Misalnya, Olalla Dominguez Liste yang mendampingi Nora (3th) dan Leo (2th) bergembira bersama Torres. Nagore Aramburu, istri Xabi Alonso, juga membawa Jontxu dan Ane turun ke lapangan. Tak hanya bermain dengan anak-anak, para Suami istri ini pun tak segan mempertontonkan kemesraan di tengah lapangan.

Anak-anak berlari di lapangan, bermain dengan sesama anak para bintang Spanyol, memainkan sisa confetti, dan berpose bersama dengan trofi Piala Eropa 2012.

Sementara itu, Cesc Fabregas tertangkap kamera di bangku cadangan ketika tengah bermesraan dengan kekasihnya, Daniella Semaan.

Cinta dimana-mana... Selamat Spanyol!


Via: Saatnya Anak-anak Bergembira Bersama Ayah!

Sunday, July 1, 2012

Del Bosque: Italia Cuma Sedang Sial


KIEV, KOMPAS.com - Italia hanya sedang tak beruntung alias sial. Demikian penilaian dari pelatih tim nasional Spanyol, Vicente Del Bosque. Menurut pelatih berusia 61 tahun ini, "Gli Azzurri" tampil luar biasa sepanjang turnamen namun tidak terlalu beruntung mengakhirinya.

"Kami telah menjalani pertandingan yang sangat luar biasa, namun jangan meremehkan Italia. Mereka hanya tidak beruntung. Segala keberuntungan mendukung kami malam ini," katanya seperti dilansir Football Italia.

"Italia bermain dengan satu pemain lebih sedikit, satu hari kurang istirahat dan mereka telah mencoba yang terbak namun tak bisa masuk ke dalam permainan. Kami memainkan permainan kami dan yakin dengan apa yang sudah kami lakukan bertahun-tahun," lanjutnya kemudian.

Del Bosque mengatakan siapa saja dan tim mana pun di dunia ini bisa kehilangan suatu kesempatan kapan saja dan Italia mengalaminya. Meski sudah menunjukkan permainan yang mencengangkan hingga berjalan sampai final, kebobolan terlebih dahulu hingga cederanya Thiago Motta membuat permainan efektif yang coba dibangun oleh Cesare Prandelli segera berakhir.

Namun, menurutnya, para pemain Spanyol memang tengah dalam performa terbaiknya. Iker Casillas dan kawan-kawan tidak mudah menyerah ketika lawan bereaksi terhadap permainan mereka. Mereka segera membalasnya dengan reaksi yang tak kalah ngototnya. Del Bosque mengaku, laga tadi malam juga menegangkan bagi pihak Spanyol.

"Ini adalah generasi pemain yang luar biasa. Mereka memiliki dasar dan tahu bagaimana harus bermain karena mereka datang dari negara yang mengetahui cara-cara (bermain sepak bola). Kami memiliki banyak pemuda yang luar biasa, beberapa bermain di luar negeri," ungkapnya.

"La Furia Roja", lanjutnya, bisa bermain dengan tenang sehingga menguasai bola dengan lebih baik. Dengan kemenangan ini, Spanyol menjadi tim pertama yang memenangi tiga gelar turnamen besar secara berturut-turut. Del Bosque mengatakan Spanyol bersiap untuk turnamen lain ke depannya, seperti kualifikasi Piala Dunia 2014 di Brazil.

"Ini adalah era yang luar biasa bagi sepak bola Spanyol. Setelah Vienna (dan final Piala Eropa 2008) Luis Aragonez, pekatih berikutnya menunjukkan kepada kami cara dan petunjuk untuk terus maju. Ada tantangan di depan untuk menghadapi kualifikasi Piala Dunia dan kemudian Piala Konfederasi yang merepresentasikan Eropa, kami ingin melakukannya dengan baik," tandasnya.


Via: Del Bosque: Italia Cuma Sedang Sial

Spanyol, "Kupu-kupu" Iberia yang Menyengat


KIEV, KOMPAS.com "Dancing like butterfly, stinging like a bee." Itu memang gambaran untuk petinju legendaris Muhammad Ali. Ia menari seperti kupu-kupu dan menyengat seperti lebah. Bahkan, petinju-petinju tangguh pun sanggup ia taklukkan.

Gambaran seperti itu rasanya bisa disematkan kepada timnas sepak bola Spanyol. Negara dari kawasan Iberia ini menari dengan permainan tiki-taka, terkesan lembut atau lemah gemulai seperti gerombolan kupu-kupu memburu bunga. Tak ada kesan garang pada gerakan atau wajah-wajah para pemain. Namun, mereka menyengat seperti tawon. Tajam dan menyakitkan.

Dan, Italia yang tak pernah dikalahkan Spanyol dalam waktu normal sejak 1920 akhirnya tumbang juga. Bahkan, tarian Spanyol itu membuat gawang Gianluigi Buffon tersengat empat kali oleh aksi David Silva, Jordi Alba, Fernando Torres, dan Juan Mata.

Bergerak dan mengumpan secara cerdas. Itulah salah satu ciri khas sepak bola Spanyol saat ini yang disebut-sebut berakar dari Barcelona. Dan, memang itu yang ditekankan La Masia (akademi sepak bola Barcelona) dalam mendidik anak asuhnya. Setelah semua dasar teknik dikuasai, para pemain hanya diminta berpikir cerdas untuk bergerak dan mengumpan secara cerdas, kemudian menyelesaikan serangan dengan cerdas pula.

Itulah yang diadopsi timnas Spanyol, hingga didominasi para pemain Barcelona, seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Pedro Rodriguez, Sergio Basquet, Cesc Fabregas, dan Gerard Pique. Bahkan, formasi timnas Spanyol pun sama dengan Barcelona, yakni 4-3-3. Namun, pemain dari klub lain pun tetap bisa menyatu dalam irama dan filosofi yang sama.

Dengan gaya permainan sepak bola seperti itu, mereka selalu mendominasi permainan. Itu pula salah satu kekuatannya. Bagi Spanyol, penguasaan bola adalah awal dari sebuah kesuksesan permainan. Kehilangan bola sama halnya awal dari bahaya.

Filosofi itu pula yang dipegang Pelatih Vicente del Bosque. Maka, dia membuat gebrakan cukup mengejutkan di Piala Eropa 2012 ini. Pada pertandingan pertama melawan Italia di penyisihan Grup C, ia tak memakai striker sejak awal. Tujuannya agar Spanyol mampu menguasai lini tengah yang sangat vital, juga mampu mendominasi penguasaan bola.

Lini depan dia isi tiga gelandang. Cesc Fabregas berperan sebagai "Nomor 9 Palsu" atau striker tipu-tipuan. Hasilnya, Spanyol ditahan Italia 1-1. Lalu, publik mengkritik strategi yang kemudian disebut dengan formasi 4-6-0 karena tak memakai striker murni tersebut.

Del Bosque bergeming. Di final ketemu lawan yang sama, Italia, ia memakai strategi yang sama. Spanyol mendominasi permainan dan kemudian menuai buah strategi barunya dengan kemenangan 4-0. Meski striker Fernando Torres akhirnya main pada menit ke-74, tetapi dasar kemenangan Spanyol dibangun dengan formasi 4-6-0.

"Tipe sepak bola tak hanya satu. Yang terpenting bagaimana mencetak gol," demikian kata Del Bosque memberi alasan.

Jawaban yang masuk akal. Sebab, Spanyol memiliki jajaran gelandang luar biasa yang tak hanya mampu mengkreasi permainan, membantu bertahan, tetapi juga menyerang dan mencetak gol. Nama-nama seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta, David Silva, dan Cesc Fabregas merupakan jaminan penguasaan bola dan mereka punya naluri mencetak gol yang bagus. Terbukti, sebelum menurunkan striker murni, mereka langsung unggul 2-0 berkat gol Silva dan bek Jordi Alba.

"Para pemain kami sangat inteligen. Kami memiliki tim yang seimbang. Ada keamanan dalam diri pemain kami. Kami memiliki beberapa striker, tetapi kami memutuskan untuk menurunkan pemain dengan kondisi yang terbaik bagi gaya sepak bola kami," tambahnya.

Penguasaan bola dengan tiki-taka, itulah yang diutamakan. Kemudian, dengan kecerdasan pemain, peluang akan lahir. Dan, peluang Spanyol yang dibangun dengan tiki-taka dan umpan one-two sering melahirkan peluang emas yang bisa diselesaikan pemain tipe apa pun.

Ibarat kupu-kupu, Spanyol punya pola tersendiri dalam menari. Menggunakan teknik tiki-taka, mereka bergoyang dan menggoyang lawan dalam ritmenya. Sering terkesan lemah lembut, tetapi pergerakan mereka meyakinkan dan sengatannya tajam seperti lebah dan mematikan.

Spanyol telah membuktikan efektivitas sepak bola mereka. Tiga gelar besar secara berturut-turut menjadi bukti superioritas sepak bola Spanyol. Setelah juara Piala Eropa 2008, mereka menjuarai Piala Dunia 2010 dan kini Piala Eropa 2012. Inilah masa kejayaan tiki-taka ala Spanyol.


Via: Spanyol, "Kupu-kupu" Iberia yang Menyengat

Bangganya Menjadi Juara Eropa


KOMPAS.com - Ajang Piala Eropa selalu membangkitkan kenangan indah dan mendalam bagi para pesepak bola yang pernah tergabung dalam tim yang menjuarainya. Kenangan tak terlupakan sebagai juara Piala Eropa itu tidak dirasakan banyak pesepak bola, sehingga siapa pun yang bisa merasakannya memiliki kebanggaan mendalam sebagai anggota tim juara.

Ada 159 pemain yang merasakan manisnya kemenangan di final Piala Eropa. Ribuan pemain lain hanya dapat memimpikan menikmati kenangan istimewa tersebut saat mengikuti turnamen akbar yang memasuki edisi ke-52 itu.

Pietro Anastasi baru lepas dari masa remajanya ketika membantu Italia menjuarai Piala Eropa pada 1968 di negerinya sendiri.

Sebaliknya, Arnold Muhren masuk usia 37 tahun saat membantu Belanda menjuarai Piala Eropa, dua dekade kemudian.

Inilah beberapa kesan para juara Piala Eropa dari masa ke masa, seperti dirangkum dalam situs resmi UEFA.

Viktor Ponedelnik, anggota tim Rusia di Piala Eropa 1960, yang mencetak gol kemenangan pada saat perpanjangan waktu.

Saya selalu menikmati kenangan di final mengalahkan Yugoslavia. Uni Soviet menjadi juara kejuaraan Eropa. Tiada seorang pun dapat melupakan momen kemenangan seperti itu. Bagi saya, kemenangan pada menit ke-113 itu adalah yang paling penting sepanjang karier saya. Saya mencetak banyak gol untuk klub dan tim nasional. Namun, ada pertandingan dan gol yang sangat spesial, yang menjadi titik tertinggi karier seorang pemain. Itu sepenuhnya milik saya, saat terbaik dalam hidup saya, katanya.

Luis Suarez, anggota tim Spanyol di Piala Eropa 1964. Gelandang yang menggerakkan tim tuan rumah mengalahkan Rusia di final.

Kenangan yang paling saya ingat adalah atmosfer saat itu karena Stadion Santiago Bernabeu sangat penuh sesak. Penonton sepenuhnya mendukung kami. Mungkin karena kami adalah tim pemain muda yang ingin meraih sesuatu. Saya membawa suasana tenang ke dalam tim dan meredam semua tekanan. Kami tampil baik sehingga layak menang. Padahal, ketika itu Uni Soviet memiliki tim yang sangat baik. Tim Spanyol tahun-tahun sebelumnya sebenarnya lebih bagus, tetapi tidak pernah meraih apa pun.

Antonin Panenka, anggota tim Cekoslowakia di final Piala Eropa tahun 1976. Mencetak gol kemenangan pada adu penalti melawan Jerman yang berakhir dengan skor 5-3.

Saya biasa tinggal dengan penjaga gawang kami setelah berlatih. Kami berlatih tendangan penalti. Kami suka bertaruh untuk sebatang cokelat atau segelas bir. Karena dia sangat bagus, taruhan itu menjadi cukup mahal bagi saya. Jadi, sebelum pergi tidur, saya selalu berpikir bagaimana bisa lebih baik dari dia. Saya mendapat ide untuk menunda tendangan dan kemudian memasukkannya. Saya mulai menggunakan cara itu pada pertandingan persahabatan, kemudian di liga, dan puncaknya di Piala Eropa.

Kuda Hitam, Horst Hrubesch, anggota tim Jerman Barat di final 1980. Meski bukan starter, dia mencetak dua gol kemenangan atas Belgia.

Saya bertanding di tiga pertandingan tanpa mencetak gol. Jika Jupp Derwall tidak memilih saya, saya tidak bisa menentangnya. Akan tetapi, dia membuat pilihan tepat. Saya mencetak gol pembuka, tetapi pada babak kedua, Belgia menunjukkan kelasnya dan menyamakan pada menit ke-75. Itu hari yang sangat panas dan saya ingat begitu kelelahan setelah pertandingan sehingga sulit untuk mengangkat trofi. Gol kedua saya, dari tendangan penjuru Karl-Heinz Rummenigge, sangat penting.

Sang penyihir, Marco van Basten, anggota tim Belanda di final turnamen Piala Eropa tahun 1988 di Jerman.

Anda membutuhkan banyak keberuntungan dan waktu itu keberuntungan diberikan kepada saya. Itu satu perasaan yang fantastis. Itulah saat ketika kami bisa mengatakan, ini unggul 2-0, kami dapat memenangi pertandingan. Saya tidak menyadari apa yang sudah saya perbuat ketika mencetak gol kedua Belanda dengan cara istimewa. Gol itu tercipta setelah mendapat bola dari Arnold Muhren. Kami menang di final melawan Rusia, 2-0. (OKI)


Via: Bangganya Menjadi Juara Eropa

Del Bosque Samai Rekor Schoen


KIEV, KOMPAS.com - pelatih Vicente del Bosque kini menjadi orang kedua yang mampu membawa timnya menjuarai Piala Dunia dan Piala Eropa. Orang pertama yang meraih prestasi ini adalah pelatih Jerman, Helmut Schoen.

Setelah mengganti posisi Luis Aragones sebagai pelatih Spanyol, Del Bosque sukses membawa timnya menjuarai Piala Dunia 2010. Dia kemudian melengkapi prestasinya dengan menjarai Piala Eropa 2012, setelah di final mengalahkan Italia 4-0.

Sedangkan Schoen membawa Jerman Barat (sekarang Jerman) menjuarai Piala Eropa 1972. Dua tahun kemudian, dia membawa Jerman juara Piala Dunia 1974.


Via: Del Bosque Samai Rekor Schoen

Buffon: Spanyol Terlalu Superior


KIEV, KOMPAS.com - Kapten timnas Italia, Gianluigi Buffon, mengapresiasi penampilan Spanyol setelah mampu mengalahkan timnya di babak final Piala Eropa 2012, Minggu atau Senin (2/7/2012) dini hari WIB. Kiper berusia 34 tahun itu menilai, "La Furia Roja" pantas menyabet gelar tersebut.

Spanyol berhasil menjadi kampiun Eropa setelah mengalahkan Italia 4-0. Empat gol tim asuhan Vicente del Bosque itu dicetak oleh David Silva, Jordi Alba, Fernando Torres, dan Juan Mata.

"Mereka (Spanyol) terlalu superior, sehingga penyesalan atas kekalahan ini tidak begitu besar. Ketika bertemu tim dengan kekuatan seperti ini, Anda akan bisa lebih menerima kekalahan ini," ujar Buffon seperti dilansir Football Italia.

"Kami telah menjalani turnamen yang hebat dan ini adalah perjalanan yang indah. Jelas, Anda akan menginginkan kemenangan ketika mencapai final, tetapi malam ini kami bertemu dengan tim yang sangat kuat," katanya lagi.

Buffon menuturkan, secara keseluruhan dirinya puas atas penampilan Italia dalam turnamen kali ini. Menurut kiper Juventus ini, raihan partai puncak "Gli Azzurri" merupakan prestasi yang tidak dapat dianggap remeh dan harus juga dihargai oleh sejumlah pihak.

"Kami ingin berterima kasih kepada para fans, karena mereka tidak pernah meninggalkan kami dan tetap memberikan rasa bangganya. Memang saat kami bertemu dengan tim yang lebih kuat, Anda harus memberinya kredit lebih," ucap Buffon.


Via: Buffon: Spanyol Terlalu Superior

Setelah Dicoret Pearce, Beckham Cetak Gol dan Tendang Bola ke Lawan


CALIFORNIA, KOMPAS.com - Gelandang LA Galaxy mencetak satu gol dan menerima satu kartu kuning, pada pertandingan MLS melawan San Jose Earthquakes, di Stanford Stadium, Sabtu (30/6/2012) waktu setempat, atau sehari setelah ia dicoret Stuart Pearce dari skuad Inggris Raya untuk Olimpiade London 2012.

Pertandingan itu berakhir 4-3 untuk tuan rumah San Jose. Gol San Jose dicetak oleh Steven Lenhart (7), Victor Bernardez (44), Sam Cronin (47), Chris Wondolowski (61). Adapun gol LA Galaxy diciptakan Beckham (31), Jason Hernandez (36, bunuh diri), dan Landon Donovan (41).

Beckham menaklukkan kiper Justin Morrow dengan tendangan bebas, yang diberikan karena pelanggaran Marvin Chavez kepada Mike Magee.Tembakannya dari jarak sekitar 18 meter melesat masuk sudut kanan atas gawang tuan rumah.

Pada injury time, Cronin jatuh di kotak penalti sendiri karena berkontak fisik dengan bek LA Galaxy, Adolph Joseph DeLaGarza. Belum lagi bangun, Cronin tampak terkena bola hasil tendangan Beckham. Akibat tindakan itu, Beckham mendapat kartu kuning dari wasit Hilario Grajeda


Via: Setelah Dicoret Pearce, Beckham Cetak Gol dan Tendang Bola ke Lawan